Shady Bitches!
RSS
Audina Ismiralda Pamungkas. Lebih suka dipanggil Audina. Belum Mempunyai KTP. Kembarannya Anin. Calon Mahasiswi FMIPA-Farmasi UI 2012.

Untukmu yang tak tergantikan, sudah sejauh mana aku terlupakan?


mungkin ini posting terakhir tentangmu. bicara tentang terakhir, aku tau memang ini yang kau inginkan dariku sejak lama bukan? penantianku akan hadirmu memang sudah seharusnya aku akhiri. karena pada akhirnya yang aku lakukan hanya menyakiti diriku sendiri. entah sudah sejauh mana harapanku melayang jauh di angkasa, atau mungkin diantara sekian juta harapan orang-orang harapanku lah yang paling tinggi. meski begitu, aku mencintaimu dengan sangat sederhana. sesederhana kamu menarik dan menghembuskan napasmu setiap harinya, dan cintamu takkan pernah untukku. aku merindukanmu. jangan hiraukan aku, aku sudah terlalu sering menahan rindu, hingga akupun dibuat hafal dengan rasa sakitnya. kamu tau apa yang membuat aku bahagia? bahagiaku pun sangat sederhana. sesederhana kamu menjadi pelengkap dari akhir kisah cintaku. tapi sederhana tak selalu berarti mudah. melupakanmu pun tak berarti susah, Sayang. bukan perkara bisa atau tidak bisa aku melupakanmu, tapi mau tak maunya aku. andai aku mau, sudah sejak lama aku melupakanmu. aku butuh sesuatu yang bisa menyadarkanku hingga pada malam itu, saat kau membalas pesanku, akupun tersadar bahwa penantianku selama ini hanya sia-sia. terima kasih sayang, kamu menyadarkanku bahwa menunggu sesuatu yang abstrak memang hal yang tak berguna. kamu tak perlu takut. sampai saat ini, kau masih yang tak tergantikan, kau masih jadi penutup diantara semua doa-doaku. 

“Kamu adalah rindu-rindu yang tak mampu terucap, doa-doa yang tak mungkin tertinggal.”

“Aku ingin menyelinap perlahan ke dalam lubang porimu. Memaksa diam peluh yang mengalir karenaku.”

“Jika ada sesuatu yang lebih penting dari kamu, mungkin itu kita.”

“Bukan kamu yang tak terlupakan. Tapi aku yang enggan melupakan.”

“Di tanganmu, luka menyudahi dirinya sendiri. Mengalir ke tanah lewat sela-sela jemari.”

“Kamu datang sebagai pengganti, untuk kemudian jadi yang tak terganti.”

“Keindahan biasanya baru terasa ketika ingin berpisah. Masa-masa SMA, misalnya.”

“Hingga pada akhirnya yang kau lakukan hanyalah memperluas jarak di antara kita.”

“Cintaku kepadamu sudah hampir tahiyat akhir, walaupun sayangmu kepadaku belum juga mendekati niat.”